AHLAN WA SAHLAN

Saturday, April 24, 2010

Surat Cintaku

Untukmu wahai adikku

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Catatan ini adalah perwakilan dari suara hati kakakmu.
Wahai adikku apa yang engkau fikirkan ketika amanah dakwah itu datang menghampirimu?
Suatu amanah illahi yang kelak akan dipertanggungjawabkan, atau hanya sekedar jabatan agar kau dianggap orang penting?
Ketahuilah adikku, amanah ini tidak akan pernah dititipkan kepadamu jika mereka tak percaya padamu. Karena kepercayaan mereka lah yang membuatmu mengemban amanah yang tak semua orang mendapatkannya.
Tangan kecilmu mampu mengemban dakwah besar yang bahkan gunung pun tak mampu menggengamnya, dan tangan kecilmu jua lah yang mampu menghancurkannya hanya dengan sekali genggam.
Wahai adikku, aku pun pernah berada di posisimu. Bahkan bisa jadi aku lebih terpuruk dan menyedihkan dibanding dirimu. Terkadang aku berlari menuju cintaNya, terkadang aku berjalan dan bahkan terkadang aku terseok menghampiri-Nya.
aku bukanlah seorang sufi yang menghamba pada kezuhudan dunia, aku hanya lah seorang hamba yang kesempurnaan tak pernah melekat di jasad kotorkua. Aku pun sedang berada di posisi yang sama dengan kalian, berusaha melawan keinginan untuk menghamba selain cintaNya.
Wahai adikku, kekhilafan tak pernah lepas dari diriku, aku terkadang terlena oleh suatu nama selain cintaNya. Kemudian aku merasa kotor dan munafik. Namun diri hina ini berusaha untuk memuhasabahi diri dan berubah menjadi insan yang lebih bersih meski tak suci.
Wahai adikku, bukanlah suatu kesalahan ketika dirimu mencintai makhukNya, namun bagaimana caramu memporsikan cintamu kepada Nya dan makhlukNya lah yang menjadi suatu masalah. Ketika engkau memporsikan nilai yang sebanding antara keduanya, maka yakinlah engkau tidak akan mendapatkan apa-apa. Ketika engkau memporsikan nilai yang lebih berat kepada makhlukNya maka yakinlah manis cintaNya tak akan pernah engkau rasakan lagi. Dan ketika engkau memporsikan nilai yang lebih berat kepadaNya maka yakinlah cintaNya padamu pun tak kan pernah terbagi.
Bukan hanya engkau wahai adikku yang dicobai hal yang sama, bahkan Yusuf yang sholih dan bertitel nabi pun pernah dicobai hal yang sama sepertimu, Zulaikha yang kaya dan rupawan. Namun apa yang terjadi? Satu kata yang ia ucapkan “Sesungguhnya aku takut kepada Rabb-ku”
Wahai adikku, tak ada satupun yang menginginkanmu pergi dari dakwah ini. Seperti yang sering kudengungkan “Islam tidak butuh kita dan Allah tidak pernah butuh kita, namun kita lah yang membutuhkan Allah dan islam” layaknya suatu logika, maka siapa yang membutuhkan dialah yang menghampiri. Jika hari ini engkau menjauh dan tidak ingin menjadi orang yang ikut dalam dakwah maka yakinlah bukan sistem yang akan menggantimu namun Allah lah yang akan menggantimu dengan generasi yang jauh lebih baik, karena sekali lagi aku katakan bahwa Allah tak pernah membutuhkan kita.
Apakah kau ingin menjadi terasing di antara orang-orang shalih dan menjadi bagian diantara orang-orang jahili? Tentu tidak, karena sejatinya menjadi orang asing diantara orang jahili adalah suatu kenikmatan dimana surga menjadi balasannya.
Bukankah engkau pernah berikar bahwa engkau telah menjual jiwa dan ragamu kepada Allah dengan surgaNya yang menawan? Lalu apa yang engkau lakukan hari ini? Menarik kembali jiwa dan ragamu dengan menggadai surgaNya untuk suatu kenikmatan bernama dunia?
Wahai adikku, karena besarnya cintaku kepadamu lah yang membuatku menegurmu, agar kau tertempah menjadi muslim yang tangguh pembela ummat. Agar kau menjadi Khalid bin Walid atau Ali bin Abi Thalib, mereka dulunya hanyalah seorang pemuda namun Rasulullah shallahu alaihi wassalam memberi mereka amanah yang besar di atas pundaknya. Mengapa? Karena islam tidak pernah disebarkan melalui Demokrasi namun melalui Pemuda-pemudanya.
Dan hari ini, jika engkau tidak mengambil bagian sebagai pemuda yang ikut kedalam proses kebangkitan islam, maka yakinlah Allah akan menggantimu dengan UmatNya yang jauh lebih baik dari dirimu.
Ini adalah sunnatullah dimana kuantitas umat yang menyeru kepada kebaikan dan melarang yang munkar tidak pernah lebih besar dari mereka yang melanggar perintahNya dan mengerjakan laranganNya.
Dan hari ini, aku, kamu, dia, dan mereka berada di posisi yang sama dimana iman kita selalu menjadi taruhannya. Karena aku, kamu, dia, dan mereka bukanlah orang suci yang kapan pun dapat diganti.
Surga Allah begitu luas, maka jadilah penghuniNya...

Terkhusus untuk adik-adikku yang tersakiti hatinya karena ku, Demi Allah karena cintaku padamu lah yang membuatku menegurmu, sungguh aku ingin engkau termasuk menjadi orang yang ikut dalam proses perubahan umat dan bukan malah menjauhinya..

No comments: